Kerusakan Aset di PTPN Reginal 2 Kebun Malabar: Ribuan Pohon Teh Muda Hilang, Ancam Masa Depan Karyawan

Iklan Semua Halaman

.

Kerusakan Aset di PTPN Reginal 2 Kebun Malabar: Ribuan Pohon Teh Muda Hilang, Ancam Masa Depan Karyawan

Staff Redaksi Media DPR
Jumat, 21 Februari 2025

 



KABUPATEN BANDUNG | MEDIA-DPR.COM, Kerugian besar terus dialami PT Perkebunan Nusantara (PTPN) Regional 2 Kebun Malabar, khususnya di Afdeling Kertamanah, akibat ulah oknum masyarakat yang merusak aset pohon teh di perkebunan. 


Hal ini disampaikan oleh Heru Supriadi, Manager PTPN Regional 2 Kebun Malabar dan Iskandar Setiawan, selaku Adsi, melalui Ivan, saat ditemui di kantor Afdeling Kertamanah, Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada 20 Februari 2025.

 

Perusakan yang terjadi sejak Januari 2025 ini telah merugikan perusahaan dengan hilangnya ribuan pohon teh muda yang diinventarisir mencapai 70 hektar.


"Setiap hektarnya terdapat 13 ribu pohon teh, dan yang rusak hingga hari ini masih terus diinventarisir," ungkap sumber dari PTPN Regional 2 Kebun Malabar.

 

Kerusakan ini tidak hanya merugikan perusahaan, tetapi juga mengancam masa depan karyawan yang menggantungkan hidup dari perkebunan teh tersebut. 


"Saya sangat miris melihat kejadian ini, karena banyak karyawan yang akan kehilangan mata pencaharian yang selama ini bekerja sebagai karyawan pemetik teh," ungkap Ivan.

 

Efek buruk dari perusakan ini sangat terasa di lapangan.  Beberapa blok perkebunan yang menjadi sasaran perusakan tidak dapat dipanen, sehingga mengurangi hasil produksi.


"Jika rata-rata satu hektar menghasilkan 2 sampai 4 ton hasil produksi, dan panen dilakukan setiap 50 hari dengan 7 sampai 9 kali panen dalam setahun, maka potensi kerugiannya sangat besar," jelas Ivan.

 

Perusakan pohon teh muda ini bukan hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga mengancam kelestarian perkebunan teh di PTPN Regional 2 Kebun Malabar. 


Pohon teh yang dihancurkan merupakan aset masa depan perusahaan yang akan memberikan hasil panen untuk puluhan tahun ke depan. 

(Ayi Supriatna)

close